Kasih Sayangmu Kan Ku Ukir
Abadi
Karya : Reva Retna Azizah
Pagi ini tak ada bedanya dengan
hari-hari sebelumnya keluarga yang tak harmonis seperti semula itu tak akan
terjadi dalam hidup ini, andai saja waktu bisa mengulang kembali pasti
perpisahan itu tak akan terjadi.
Fey tinggal
disebuah kota yang ramai bersama Bunda dan Kakaknya, Mereka hidup selalu
bersama-sama, kemana pun Mereka pergi pasti selalu bertiga. Waktu Fey berumur 1
tahun, Orang tua Fey memutuskan untuk berpisah. Namun Fey tidak tahu apa
penyabab dari perpisahan itu ?
Fey
sangat penasaran dengan perpisahan Orang tuanya
“ Bun, kenapa Bunda sama Ayah memutuskan
untuk berpisah ? “ tanya Fey
“ memang ada apa ? “ jawab Bunda
“ gak ada apa-apa, Fey Cuma
ingin tahu doang. ” ujar Fey
“ Ayahmu selalu membuat Bunda
kesal, kelakuannya selalu membuat Bunda malu, apalagi kalau Ayahmu berada di rumah
pasti selalu membuat Bunda sakit hati, dan Bunda tidak tahan dengan itu semua!
“ ucap Bunda Fey
Fey hanya terdiam mendangar perkataan Bundanya.
Keesokan
harinya Fey dan Bundanya pergi ke Bandung untuk menghadiri acara pernikahan
adik dari Ayahnya. Disana Fey tak sengaja mendengar pembicaraan antara Bundanya
dengan Neneknya yang membicarakan tentang Ayahnya.
“ Neng, gimana kabarnya? “ tanya
Nenek Fey
“ alhamdulillah Bu sehat, Ibu
gimana kabarnya? “ jawab Bunda Fey
“ alhamdulillah sehat, Neng
maafin Yanto yah, Ibu juga udah capek, malu sama kelakuannya, sekarang mah
terserah Yanto mau gimana-gimana juga, Ibu mah udah capek Neng. ” (dengan tetes
air matanya )
“ Iyah Bu gak apa-apa Neng mah
udah gak mikirin lagi. “ ( sambil mengelus pundak Nenek Fey) ”
“ syukur atuh kalau gitu mah “
ujar Nenek Fey
Mendengar pembicaraan tadi Fey lantas berpikir “ Apakah
Ayahku sejahat itu ? kemarin saja Bunda mengatakan begitu, Apakah Aku akan
mendapatkan setetes kasih sayang dari Seorang Ayah? “
Namun Fey
tetap bahagia walaupun tidak ada Seorang Ayah disisinya, Fey juga tidak pernah
merasa kurang kasih sayang dari Orang tuanya, kasih sayang Bundanya sangat
berharga yang menjadi hidup Fey terasa sempurna. Bundanya selalu menyayangi,
menjaga, dan merawat Fey dari kecil sampai sekarang ini.
Suatu hari Fey
menanyakan uang tabungannya kepada Bundanya
“ Bun lihat uang tabunganku gak?
(dengan wajah yang sedikit kebingungan)
“ Iyah tadi dipinjam Bunda untuk
beli sayuran. “ jawab Bundanya
“ Buat apa beli sayur-sayuran
banyak gini Bun? Memang mau ada apa?” ujar Fey
“ buat jualan .. udahlah gausah
ngomong mulu, ambilin Bunda minum?
” (dengan tubuh yang lelah)
“ ohh,, untungnya berapa Bun?
Terus kapan kembaliin uang tabungan Fey Bun? “
(ujar Fey)
“ yaudahlah gausah tau ini
urusan Bunda, nanti juga Bunda kembaliin uangnya! Ini juga buat makan Kamu,
udah tau Bunda capek dari tadi nyari uang sampai-sampai Bunda mau pingsan di
jalan! bukannya bawain minum, ini malah bikin Bunda nambah pusing! “ ( dengan
nada yang lantang dan raut wajah yang kesal )
“ Iyah Bun, maafin Fey “ (sambil
menangis)
“jangan kayak Ayahmu pelit! gak pernah perhatian sama keluarga, mentingin
diri sendiri! “ (nasihat Bunda)
Fey hanya terdiam dan nangis, dalam hati Fey berkata “Aku gak
mau dibilang seperti Ayah”
Sejak saat itu Fey sangat benci dengan Ayahnya karena Fey
berpikir Ayahnya tidak pernah sayang dan peduli kepada Fey, namun walaupun
kelakuan Ayahnya buruk tetap saja itu Ayah Fey, tidak ada yang namnya bekas
Ayah ataupun bekas Anak.
Dua minggu
kemudian, Bunda Fey terserang penyakit radang tulang yang membuat Bundanya
tidak bisa melakukan kegiatan apapun, Bundanya hanya bisa terbaring di tempat
tidur saja.
“ Bunda kenapa? “ tanya Fey
“ kata Dokter Bunda terrserang
penyakit radang tulang “ (dengan wajah yang terpukul)
“ Apa Bun? tapi bisa sembuh kan
Bun? sabar yah Bun, pasti ada hikmahnya di balik ini semua “ Ujar Fey
“ gatau Bunda juga, iyah Bunda
juga udah sabar, makasih yah Fey “ (dengan nada yan begitu lembut)
Pada tanggal 2
agustus, Fey berulang tahun yang ke 14,
di hari ulang tahunnya, Fey hanya mendapat ucapan selamat dari seorang Kakak
dan Para Sahabatnya saja. Padahal Fey mengharapkan ucapan dari Ayahnya. Fey
hanya bisa berdoa semoga Ayahnya dibuka
pintu hatinya. Selain itu, Fey juga sangat sedih karena Bundanya masih
terbaring di tempat tidur.
Dihari ulang tahunnya kini, Fey ingin Bundanya disembuhkan
dari segala penyakit.
Sore harinya Fey memandikan Bundanya
“ Bun, hari ini Fey ulang tahun
“ (dengan nada yang lembut)
“Iyah Bunda inget , Bunda gak
akan pernah lupa dengan hari kelahiran Fey. Maafin Bunda di hari ulang tahun
Fey, Bunda malah nyusahin Fey, Bunda hanya bisa berdoa semoga Fey menjadi anak
yang sholehah. Fey mau apa ? “ Kata Bunda Fey
“ makasih Bun, Bunda itu gak
pernah nyusahin fey sedikit pun. Fey hanya minta satu dari Bunda, Fey ingin
Bunda cepat sembuh seperti dulu lagi, Bunda jangan pernah ninggalin Fey yah? “
(dengan tetes air mata)
“ Iyah Bunda juga ingin cepat
sembuh, Bunda udah capek dengan penyakit ini, nanti kalau Bunda pergi Fey harus
jaga diri dan Fey jangan sekali-kali membenci Ayah .” nasihat Bunda
“ Bunda jangan ngomong gitu, Fey
jadi takut, Fey janji deh gak akan benci lagi sama Ayah, Fey sayang Bunda.
“ (sambil memeluk tubuh Bundanya)
Malam harinya, Bunda Fey menghembuskan nafas untuk terakhir
kalinya. Fey sangat sedih dan terpukul, baru saja tadi sore Ia memandikan
Bundanya. Fey hanya nangis didalam kamarnya dan mendoakan Bundanya agar
diterima disisi Allah. Dihari ulang tahunnya, kenapa malaikat harus mencabut
nyawa Bunda.
Hari demi hari
dilalui oleh Fey bersama Kakaknya. Fey masih terlihat berduka atas meninggal
Bundanya. Namun Fey sangat beruntung masih mempunyai Kakak yang sangat
perhatian dan selalu menyayangi Fey.
“ Kak, sudah seminggu kita
ditinggal Bunda “ tanya Fey
“ Iyah Fey, Kakak kangen banget
sama Bunda. “ jawab Kakak Fey
“ Aku juga kangen banget Ka sama
Bunda “ ( langsung beranjak ke kamar Bundanya)
“ Fey mau kemana? “ ( mengikuti
jalan Fey )
“ Aku mau tidur di kamar Bunda
Ka. “ ujar Fey
Pada saat Fey sedang tidur di kamar Bundanya, ada yang
mengetuk pintu rumahnya.
“ Assalamu’alaikum “
“ Walaikumsalam “ jawab Fey dan
Fey sangat terkejut dengan kehadiran sosok bapak-bapak ini
“ ada siapa Fey ? “ tanya Kakak
Fey
“ ada Ayah Ka.. “ dengan nafas
yang terhenti-henti dan bisa dibilang
sedikit gagap
“ eh, ada Ayah, ayu masuk
Yah, ada apa Ayah datang kesini? “ ujar
Kakak Fey
“ Ayah ingin jemput kalian,
untuk tinggal bersama Ayah, apakah kalian mau? “ tanya Ayah Fey
“ Aku gak mau yah! “ ucap Fey
yang lantang
“ gak boleh gitu Fey, apapun
yang terjadi kita harus ikut bersama Ayah. Kamu masih inget kan pesan Bunda? “ nasihat Kakak Fey
“ tapi Kak, yasudah lah terserah
Kakak saja” jawab Fey
“ maafin Ayah yah baru nengok
kalian sekarang, Ayah janji akan selalu sayang sama kalian “ ucap Ayah Fey
“ Iyah Ayah kita akan selalu
memaafkan apapun kesalahan Ayah “ ujar Fey dan Kakaknya
“ makasih yah Nak, kalian memang
Anak yang baik , yasudah sekarang kalian kemas barang-barang yang akan kalian
bawa “ ucap Ayah
“ ok, Ayah. “ jawab Fey
Akhirnya Fey, Kakak, dan Ayah nya hidup bahagia selamanya. .
.











